Bapakku yang kucinta… pujaan hatiku… (dinyanyiin pake irama lagu Desaku ya). Saya mau cerita sedikit tentang Bapak saya yang awesome. Nggak, Bapak saya bukan tipe ganteng yang digila2i banyak perempuan. Bapak saya juga bukan orang kaya gila2an yang hartanya meluber sampe nggak tau mau dihabisin buat apa (kalo ada yang bingung duitnya mau diapain, saya mau banget jadi penerima beasiswa :D). Bapak saya juga bukan tipe pemikir pinter yang tulisannya tersebar di media massa dan pendapatnya banyak dikutip orang. Bapak saya cuma pensiunan pegawai negeri golongan III A. Salah satu orang paling sederhana yang saya tahu (sampe terkesan pelit. Huhuhu…).
Tapi biar saya ceritakan beberapa hal. Teman-teman, sanak famili, dan sepupu-sepupu saya biasa memanggil bliau dengan : BUAYA. Bukan, bukan karena Bapak saya itu playboy cap duren tiga atau buaya darat. Tapi karena dulu waktu mudanya, Bapak saya hobi nangkepin buaya buat dijual ke orang Cina (percaya nggak percaya. Saya juga nggak tau apa orang Cina suka makan daging buaya). Nah, pada suatu ketika, Bapak saya mengintai seekor buaya kecil yang sedang berenang-renang manis di sungai. Bliau mulai ngambil ancang-ancang untuk nangkep itu buaya. Temannya sudah menunggu di pinggir sungai dengan tali buat ngiket itu buaya. Hap! Si buaya mungil tertangkaplah. Bapak saya jumawa. Mereka berdua siap-siap ngiket moncong si buaya mungil.
Lagi ngobrol penuh suka cita gitu, tiba2 datenglah Sang Induk buaya dari sungai. Pelan…pelan…matanya penuh amarah dan dendam. Bapak saya dan temannya buru-buru naek ke darat sambil mbawa si buaya mungil (:nohope:). Inilah kesalahan mereka. Sudah lari bawa anaknya, lari nya ke darat pula. Buaya itu kan malah tambah kuat di darat. Dan terjadilah pertarungan itu. Bapak saya bergulat dengan buaya! Ekor Sang induk melecut punggung Bapak saya. Untunglah teman Bapak saya itu setia kawan. Dia nggak langsung ngabur begitu aja waktu Bapak saya gulet ama buaya. Dengan (di) berani (berani kan), sang teman meraih batu dan membidik mata buaya besar itu. Thank God kena! Sang Buaya meraung (hehehe… nggak kali ya) kesakitan, ada celah buat Bapak saya untuk kabur. Dan bliau nggak menyia-nyiakan kesempatan itu. Mereka berdua lari, lari, dan terus lari sampai di perkampungan penduduk. Bapak saya selamat, tapi nggak berarti dia kapok. Bliau masih berburu buaya, tapi dengan pelajaran itu bliau jadi lebih hati2.
Sabetan buaya itu berbekas. Punggung Bapak saya jadi agak bungkuk walo nggak kayak The Hunchback of Notredame. Beranjak dewasa, Bapak saya itu sering banget kecelakaan (kata sodara2 saya sih karena Bapak saya badung banget mudanya). Ya kesrempet motor, tabrakan badan sama motor, tabrakan motor sama motor, pas lagi naek motor kesrempet truk sampe guling2. Macem2 deh. Saya nggak tau, mungkin karena itu juga, di punggung Bapak saya tumbuh semacam punuk (kayak punuk onta gitu) yang harus dioperasi. Dan, begitu dioperasi, Bapak saya jadi lumpuh! Nggak bisa jalan, nggak bisa nggerakin kaki. Babak baru buat kehidupan bliau. Seperti belum cukup cobaan itu, nggak lama kemudian istrinya meninggal dan bliau harus menghadapi dua anaknya—yang amit2 jabang bayi badungnya nurun dari bapaknya. Beberapa tahun kemudian anak laki2nya meninggal. Anak perempuannya yang seharusnya menemani dan mengurusinya, pergi ke luar kota untuk meneruskan studi. Ia tidak pernah melarang, malah mendorong anaknya untuk berkelana.
Setelah saya belajar psikologi, saya baru tahu betapa semua cobaan itu bisa saja bikin Bapak saya jadi gila. Minimal stress berat. Tapi nggak. Walau semakin pendiam, Bapak saya rajin mengurusi kebun kecilnya di depan rumah. Rajin membuat jamu2an dari kunyit, jahe dan entah apa lagi, yang dikeringkan untuk anak perempuannya. Rajin belajar bahasa Sunda (nggak tau deh, kenapa bliau begitu terobsesi). Dalam keadaan lumpuh itu, bliau juga masih bisa inspeksi ke kebon duku nya di kampung sana. Masih bisa 'buka' kebon duren di lahan yang tersisa. Dan masih bisa meninggalkan bekas mendalam pada hati anak perempuannya.
Buat saya yang hampir lupa wajah ibu saya kalo nggak rajin liat fotonya, Bapak saya benar2 berharga.
Comments (1)
KEREN!
sumpah, kisah paling keren tentang bapak...
beneran itu kelai ma buaya?? gokil!
oia, lam kenal.