Weblog

Wednesday, 19 March 2008

Friday, 16 June 2006

  • The Five People You Meet In Heaven By Mitch Albom

    "This is what heaven for: for understanding your life on earth"

    Buku ini berkisah tentang seorang lelaki tua bernama Eddie. Ceritanya dimulai dari kematian Eddie di tempat kerjanya, setelah berusaha menyelamatkan seorang bocah kecil. Perjalanan Eddie setelah mati dimulai dengan pertemuannya dengan The Blue Man, yang sama sekali tidak pernah dikenalnya. Si manusia biru ini mengatakan paa Eddie bahwa ada lima orang yang akan ditemuinya di Surga, tiap orang berada dalam hidupnya dengan alasan masing2. dan orang-orang ini akan membantu Eddie memahami hidupnya di dunia dulu. The Blue Man sendiri ternyata memilki hubungan yang signifikan dengan Eddie. Orang ini, meninggal dunia karena Eddie.

    Orang kedua yang ditemui Eddie adalah kaptennya semasa perang. Setelah mengobrol beberapa saat, sang kapten mengaku bahwa ialah yang menembak kaki Eddie—untuk menyelamatkan nyawanya. Eddie selamat, tapi kakinya tidak. Yang tidak pernah diketahui Eddie sampai ia mati adalah; sang kapten mengorbankan nyawanya untuk keselamatan Eddie dan dua kawannya yang lain dengan mengumpankan dirinya pada ranjau darat.

    Orang ketiga yang ditemui Eddie sama sekali tidak pernah dilihatnya semasa hidup. Tapi wanita ini membantu Eddie mengerti alasan beberapa perilaku ayahnya dan pada akhirnya membantu Eddie untuk memaafkan ayahnya.

    Pada perhentian selanjutnya Eddie bertemu istrinya, Marguerite, yang mengajarinya bahwa cinta tidak berakhir bahkan oleh kematian.

    Orang terkahir yang ditemui Eddie adalah seorang bocah asia yang lucu bernama Tala. Bocah ini ternyata tewas karena ketidaktahuan Eddie pada waktu membakar markas musuh di waktu perang. Bocah ini pulalah yang membantu Eddie memahami bahwa hidupnya tidak sia-sia, pekerjaan nya yang membosankan di taman bermain menyelamatkan banyak nyawa. Selama hidupnya Eddie merasa ia tidak melakukan apa-apa dalam hidupnya, ia bukan siapa-siapa, dan bahwa ia tidak sepatutnya berada di sana. Setelah kematiannya, barulah Eddie bisa mengerti semua alasan yang bersembunyi di balik kejadian.

    Bukunya bagus banget. Diceritakan dengan alur flashback—saat terakhir Eddie, masa kecilnya, saat2 pertemuan dengan lima orang di surga—dan banyak pelajaran tentang makna hidup tersurat dalam rangkaian kalimat.

    "Sometimes when you sacrifice something precious, you're not really losing it. You're just passing it on to someone else."
  • Veronika Memutuskan Mati

    Novel ini berkisah tentang seorang Veronika yang pada suatu ketika memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Veronika tidak sedang dalam kondisi sangat buruk misal terjerat hutang, atau patah hati. Ia hanya—mungkin—bosan dengan hidupnya yang biasa2 saja. "Segala sesuatu dalam hidupnya sama saja. Begitu masa mudanya berlalu, semuanya akan layu… Ia tidak akan memperoleh apa-apa dengan tetap hidup; mungkin justru penderitaan yang akan bertambah." Walaupun ia punya alasan kedua yang lebih filosofis: keadaan dunia serba kacau, dan ia tidak punya jalan untuk memperbaikinya—ini yang membuatnya merasa tidak berdaya. Tapi alasan yang dikemukakannya di suratkabar adalah: ia bunuh diri agar Slovenia (Negara tempat tinggalnya) dimasukkan dalam peta.

    Alih-alih mati setelah menenggak pil penenang dosis tinggi, Veronika malah pingsan dan sadar-sadar ia sudah jadi penghuni asylum (RSJ). Di tempat inilah Veronika menemukan 'makna' hidup dari orang-orang 'gila' penghuni asylum. Zedka yang depresi karena 'mengejar' kekasihnya, Eduard yang skizofren karena tidak bisa mewujudkan impian besarnya, dan Mari dengan gangguan panic attack yang hebat.

    Bukunya keren juga. Penggemar Paulo Coelho mungkin bakalan suka sama buku ini. Seperti buku2nya yang lain, buku ini juga ujung2nya adalah tentang bagaimana kita memaknai hidup.

    My favorite quote dari buku ini:
    Apa artinya Gila?
    "Kali ini aku tidak akan bercerita apa-apa. Aku cuma mau bilang, kegilaan adalah ketidakmampuan mengkomunikasikan apa yang ada dalam pikiran. Seperti ketika berada di negeri asing, kamu bisa melihat dan memahami apa saja yang terjadi di sekitarmu, tetapi kamu tidak bisa menjelaskan apa yang kamu ketahui atau bantuan apa yang kamu perlukan, karena kamu tidak mengerti bahasa setempat."
    "Kita semua pernah mengalaminya."
    "Kita semua, apapun bentuknya, adalah gila."
    [Zedka kepada Veronika]

Sunday, 21 May 2006

  • Bapakku Super Keren :D

    Bapakku yang kucinta… pujaan hatiku… (dinyanyiin pake irama lagu Desaku ya). Saya mau cerita sedikit tentang Bapak saya yang awesome. Nggak, Bapak saya bukan tipe ganteng yang digila2i banyak perempuan. Bapak saya juga bukan orang kaya gila2an yang hartanya meluber sampe nggak tau mau dihabisin buat apa (kalo ada yang bingung duitnya mau diapain, saya mau banget jadi penerima beasiswa :D). Bapak saya juga bukan tipe pemikir pinter yang tulisannya tersebar di media massa dan pendapatnya banyak dikutip orang. Bapak saya cuma pensiunan pegawai negeri golongan III A. Salah satu orang paling sederhana yang saya tahu (sampe terkesan pelit. Huhuhu…).

    Tapi biar saya ceritakan beberapa hal. Teman-teman, sanak famili, dan sepupu-sepupu saya biasa memanggil bliau dengan : BUAYA. Bukan, bukan karena Bapak saya itu playboy cap duren tiga atau buaya darat. Tapi karena dulu waktu mudanya, Bapak saya hobi nangkepin buaya buat dijual ke orang Cina (percaya nggak percaya. Saya juga nggak tau apa orang Cina suka makan daging buaya). Nah, pada suatu ketika, Bapak saya mengintai seekor buaya kecil yang sedang berenang-renang manis di sungai. Bliau mulai ngambil ancang-ancang untuk nangkep itu buaya. Temannya sudah menunggu di pinggir sungai dengan tali buat ngiket itu buaya. Hap! Si buaya mungil tertangkaplah. Bapak saya jumawa. Mereka berdua siap-siap ngiket moncong si buaya mungil.

    Lagi ngobrol penuh suka cita gitu, tiba2 datenglah Sang Induk buaya dari sungai. Pelan…pelan…matanya penuh amarah dan dendam. Bapak saya dan temannya buru-buru naek ke darat sambil mbawa si buaya mungil (:nohope:). Inilah kesalahan mereka. Sudah lari bawa anaknya, lari nya ke darat pula. Buaya itu kan malah tambah kuat di darat. Dan terjadilah pertarungan itu. Bapak saya bergulat dengan buaya! Ekor Sang induk melecut punggung Bapak saya. Untunglah teman Bapak saya itu setia kawan. Dia nggak langsung ngabur begitu aja waktu Bapak saya gulet ama buaya. Dengan (di) berani (berani kan), sang teman meraih batu dan membidik mata buaya besar itu. Thank God kena! Sang Buaya meraung (hehehe… nggak kali ya) kesakitan, ada celah buat Bapak saya untuk kabur. Dan bliau nggak menyia-nyiakan kesempatan itu. Mereka berdua lari, lari, dan terus lari sampai di perkampungan penduduk. Bapak saya selamat, tapi nggak berarti dia kapok. Bliau masih berburu buaya, tapi dengan pelajaran itu bliau jadi lebih hati2.

    Sabetan buaya itu berbekas. Punggung Bapak saya jadi agak bungkuk walo nggak kayak The Hunchback of Notredame. Beranjak dewasa, Bapak saya itu sering banget kecelakaan (kata sodara2 saya sih karena Bapak saya badung banget mudanya). Ya kesrempet motor, tabrakan badan sama motor, tabrakan motor sama motor, pas lagi naek motor kesrempet truk sampe guling2. Macem2 deh. Saya nggak tau, mungkin karena itu juga, di punggung Bapak saya tumbuh semacam punuk (kayak punuk onta gitu) yang harus dioperasi. Dan, begitu dioperasi, Bapak saya jadi lumpuh! Nggak bisa jalan, nggak bisa nggerakin kaki. Babak baru buat kehidupan bliau. Seperti belum cukup cobaan itu, nggak lama kemudian istrinya meninggal dan bliau harus menghadapi dua anaknya—yang amit2 jabang bayi badungnya nurun dari bapaknya. Beberapa tahun kemudian anak laki2nya meninggal. Anak perempuannya yang seharusnya menemani dan mengurusinya, pergi ke luar kota untuk meneruskan studi. Ia tidak pernah melarang, malah mendorong anaknya untuk berkelana.

    Setelah saya belajar psikologi, saya baru tahu betapa semua cobaan itu bisa saja bikin Bapak saya jadi gila. Minimal stress berat. Tapi nggak. Walau semakin pendiam, Bapak saya rajin mengurusi kebun kecilnya di depan rumah. Rajin membuat jamu2an dari kunyit, jahe dan entah apa lagi, yang dikeringkan untuk anak perempuannya. Rajin belajar bahasa Sunda (nggak tau deh, kenapa bliau begitu terobsesi). Dalam keadaan lumpuh itu, bliau juga masih bisa inspeksi ke kebon duku nya di kampung sana. Masih bisa 'buka' kebon duren di lahan yang tersisa. Dan masih bisa meninggalkan bekas mendalam pada hati anak perempuannya.

    Buat saya yang hampir lupa wajah ibu saya kalo nggak rajin liat fotonya, Bapak saya benar2 berharga.

Monday, 15 May 2006

  • Rame-Rame Jadi Maling

    Setelah Tazkia kebobolan (ada maling masuk ke kontrakan cewek! Oh God!),saya teringat kasus pembunuhan dan pemerkosaan beberapa tahun lalu yang menimpa seorang mahasiswi Brawijaya yang kosnya berjarak satu gang dengan kos saya dulu. O ya, kami langsung panik waktu itu. Jendela kamar saya yang sebelumnya tidak pernah tertutup, sebelum tidur kami periksa beberapa kali. Pintu yang tadinya puas digerendel saja, kami tambah dengan kursi untuk mengganjal. Hhh… Kita kadang baru sadar, kalo 'sesuatu' udah terjadi ya? Tapi untunglah kalo masih bisa belajar dari pengalaman orang lain. Karena mereka yang nggak bisa ngambil pelajaran dari apa yang dialami orang lain harus merasakannya sendiri.

    Yah, kalo saya bilang, para cewek di Tazkia itu nggak punya takut. Daerah tempat mereka mukim itu kan rawan banget. Motor aja udah berapa yang ilang. Rumahnya Pak RT bahkan kebobolan di siang bolong. Yang lebih serem lagi, para maling (is this the right term?) itu kreatif sekali sampe2 menjebol tembok buat ngambil isi rumah orang. Memang segalanya mahal sekarang ini. Beras kualitas sedang aja 4500 sekilo. Minyak tanah 2500. Belum lagi minyak goreng, bumbu2 dan lauk pauk yang harganya ikut naik. Wajar saja ada orang2 yang mengambil jalan pintas untuk memenuhi hajat hidupnya dan keluarganya. Jadi, apakah kita semua sepakat untuk rame-rame jadi maling?

    Jadi maling asik loh. Modalnya cuma nyali. Abis beraksi bisa bernapas lega kalo nggak ketauan atau lolos dari uberan massa. Kalo ketangkep, yah… paling-paling digebukin. Dulu malah ada yang maen bakar-bakar an. Gila juga ya? Manusia di bakar kayak bakar sate. Emang sih, hukumannya nggak sebanding ama pendapatan. Nyatronin rumah orang paling dapet apa sih? Sukur2 dapet duit cash atau barang2 kecil yang berharga. Lumayan buat bayar utang en sisanya bisa buat foya2. Tapi saya yakin, para 'maling' yang berniat menjadikan ini sebagai profesi pengen banget berguru ke Pak harto. Gila bener kan, maling duit bermilyar-milyar nggak dihukum. Malah dibebasin. Rahasianya apaan tu ya? Padahal Pak Harto itu kan simbol. Istilahnya A Izul, kalo Mbah nya aja bisa bebas, gimana anak cucunya? Kalo yang nyolong duit bermilyar2 aja bisa lolos, gimana yang 'cuma' nilep beberapa juta?

    Lucu juga, mungkin karna nggak berhasil memberantas korupsi bermilyar2, orang Indonesia jadi sensitif sama maling jemuran. Atau maling ayam.

kurusetra

  • Visit kurusetra's Xanga Site
    • Name: yoan
    • Country: Indonesia
    • Metro: Malang
    • Gender: Female
    • Member Since: 4/28/2006

Weblog Archives

Don't worry - your calendar is here… to see it in action just click "Save" above and refresh the page.